Kalau kamu besar di Madura, nama temolaba' mungkin sudah akrab di telinga sejak kecil, entah karena diseduh Emak saat perut kembung, atau karena baunya yang khas selalu tercium dari dapur nenek. Dalam bahasa Indonesia, rimpang ini dikenal sebagai temulawak (Curcuma zanthorrhiza), salah satu warisan herbal Nusantara yang paling dipercaya untuk urusan pencernaan dan kesehatan hati.
Bukan cuma cerita turun-temurun, khasiat temulawak untuk meredakan kembung sampai mendukung kesehatan hati ini juga sudah cukup banyak dikaji secara ilmiah. Yuk kita bahas satu per satu.
Rasa begah, kembung, atau mual biasanya muncul karena lambung kewalahan mencerna makanan, atau ada gas yang menumpuk dan tidak segera keluar.
Minyak atsiri dalam temulawak bekerja merangsang sekresi empedu, yang membantu tubuh memecah lemak lebih cepat, dan ini merangsang produksi cairan empedu.. Efeknya, perut jadi tidak terasa penuh dan berat setelah makan makanan bersantan atau berminyak.
Sifat relaksannya membantu menenangkan dinding saluran cerna yang sedang tegang, sehingga rasa mual dan kram di perut lebih cepat mereda.
Makanya tidak heran, di banyak rumah Madura, seduhan temulawak jadi solusi pertama saat ada anggota keluarga yang mengeluh perutnya tidak enak.
Hati adalah organ penyaring racun utama tubuh kita, dan kerjanya berat. Mulai dari memproses obat-obatan, paparan zat kimia dari makanan, sampai melawan infeksi virus. Lama-lama, kalau tidak dijaga, organ ini bisa kelelahan dan meradang.
Di titik inilah temulawak dikenal luas sebagai hepatoprotektor, alias pelindung sel hati:
Mendorong regenerasi sel hati. Kandungan xanthorrhizol dan kurkuminoid dalam temulawak diketahui membantu mendorong pembentukan sel hati baru untuk menggantikan jaringan yang rusak akibat penumpukan racun.
Membantu meredakan peradangan hati. Sifat antiinflamasinya membantu menurunkan pembengkakan pada jaringan hati, sehingga bisa mendukung proses pemulihan berjalan lebih baik, termasuk pada kondisi seperti hepatitis, sebagai pendamping dan bukan pengganti penanganan medis dari dokter.
Menjadikan temolaba' sebagai bagian dari konsumsi harian, entah direbus segar atau dalam bentuk jamu, adalah investasi kesehatan yang murah tapi berdampak panjang, terutama untuk pencernaan dan hati. Kearifan lokal seperti ini layak terus dilestarikan, bukan cuma sebagai tradisi, tapi juga sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang sudah teruji dari generasi ke generasi.
Catatan: Artikel ini bersifat edukasi kesehatan. Untuk kondisi seperti hepatitis atau gangguan hati yang sudah terdiagnosis, tetap konsultasikan penanganannya dengan dokter.